Dana Tersendat, Pembangunan Masjid Sriwedari Solo Mangkrak

Pembangunan Masjid Taman Sriwedari di Solo masih berlangsung. Pandemi Covid-19 menghambat kemajuan pembangunan, meski sudah mencapai 80 persen. Anggaran yang bersumber dari CSR sejumlah perusahaan dan bantuan masyarakat mandek.

Prihatin dengan situasi ini, Fraksi PDIP DPRD Kota Solo juga melakukan audit di lokasi proyek pada Jumat (6/10). Peninjauan tersebut dipimpin oleh ketua fraksi YF. Soekasno didampingi anggota fraksi dan sejumlah panitia pembangunan. Mereka berkeliling ke seluruh bangunan masjid di pusat kota.

YF. Sukasno mengatakan pihaknya telah mengirimkan surat permohonan izin untuk mengunjungi proyek Masjid Taman Sriwedari.

“Kunjungan kami ke sini untuk melihat kondisi masjid secara langsung. Sebelumnya, kami menyerahkan dana gotong royong dari 30 anggota fraksi. Nilainya tidak usah kita sebut, niatnya untuk mengangkat semangat yang kita bawa ke sini,” ujarnya.

Ketua Komite III DPRD Kota Solo menjelaskan, tujuan dari kunjungan inventarisasi ini adalah untuk mengajak seluruh anggota fraksi untuk mengobarkan semangat agar semua terlibat dalam penyelesaian proyek – Mosiligenee Sri.

Melalui pengamatan langsung dan penjelasan teknis, kita dapat melihat apakah itu bisa digunakan untuk sholat, hanya sedikit,” katanya.

Fraksi PDIP, lanjutnya, akan melakukan pembicaraan dengan pemerintah dan juga akan mengundang fraksi lain di dewan untuk berkunjung ke Masjid Sriwedari.

Kalau semua setuju apapun yang ada di Sriwedari harus kita dukung sesuai aturan yang ada,” ujarnya lagi.

Saat ditanya soal pembentukan tim khusus, dia mengatakan tidak perlu. Sebab, menurut dia, sudah jelas apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunan proyek ini.

Artinya, meski belum selesai, sebenarnya kekurangan dana untuk membuatnya bekerja. Tapi nanti kalau bisa bekerja, masyarakat bisa menggunakan masjid ini,” ujarnya.

Ia mengatakan pihaknya akan melakukan pembicaraan dengan panitia, khususnya tim teknis, yang mengaku memahami kondisi saat ini. Dana gotong royong dan kunjungan ke Masjid Sriwedari dimaksudkan sebagai ajakan kepada masyarakat.

Tempat ibadah ini AKAN menjadi milik masyarakat kota Surakarta. Ayo kita akhiri dengan kekuatan gotong royong kita,” pungkasnya.

Panitia Humas Pembangunan Her Suprabu mengatakan, anggaran pembangunan selama ini hanya bersumber dari CSR, masyarakat dan pihak-pihak sukarela.

Itu dirancang seperti itu sejak awal. Menurut kontrak itu adalah 165 miliar rupee, meskipun beban kerja sudah 85 persen, 15 persen lebih sedikit untuk penyelesaian. Tapi secara materiil semuanya sudah ada, tinggal dipasang saja,” ujarnya.

Mereka mengamati bahwa selama ini cukup banyak elemen masyarakat, komunitas dan gotong royong untuk mengatakan donasi. Hanya saja banyak hibah yang terhenti karena pandemi.

“Kami tidak menutup mata kepada semua yang sudah mengkampanyekan CSR, itu agak terbatas. Dengan perlambatan pandemi ini, perekonomian akan segera pulih, memungkinkan banyak pihak untuk berpartisipasi kembali,” pungkas Her.

Leave a Reply

Your email address will not be published.